Menurutnya, angka kecelakaan di Indonesia cukup tinggi. Data tahun 2004 menyebutkan korban meninggal akibat kecelakaan mencapai 30.464 jiwa, luka berat 450.000 jiwa dan luka ringan 2.100.000 jiwa. PDO mencapai 13.515.000 unit sehingga total kerugian mencapai Rp 41 triliun.
Dari data pada tahun 2004, mengandung arti tiap 1 jam terjadi 10 kecelakaan lalulintas dan tiap 30 menit 1 orang meninggal karena kecelakaan lalulintas. ''Angka ini meningkat pada tahun 2006. Di tahun ini setiap 15 menit satu orang terluka parah akibat kecelakaan dan tiap 10 menit satu orang terluka ringan akibat kecelakaan dan negara telah mengalami kerugian ekonomi mencapai Rp 91 triliun,'' paparnya, di ruang Graha Sabha Pramana, saat berlangsung seminar ''Keselamatan Berkendara di Jalan''.
Secara anatomi, kecelakaan sebagai akibat murni karena nasib hanya sebesar 1% karena semua sistem dinilai telah berfungsi ideal. Sementara 99% disebabkan satu atau lebih akibat gagal fungsi karena kendaraan, pengemudi atau infrastruktur jalan.
Mencegah Bahaya
Meski angka kecelakaan sangat tinggi, Hendra menegaskan, keselamatan tidak lagi sekedar terjadi kecelakaan, namun lebih menunjukkan tiadanya keadaan membahayakan. Selain itu, saat berada di jalan pengendara diharapkan berusaha mencegah munculnya keadaan membahayakan.
''Memberikan rasa aman merupakan upaya yang sangat baik. Hal itu bisa ditunjukkan dengan mengutamakan pejalan kaki dan menciptakan citra nyaman berkendaraan di suatu daerah. Dengan begitu mau tidak mau akan menjadi daya tarik kota, terlebih Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar dan pariwisata,'' tambahnya.
Seminar dalam rangka Research Week itu menghadirkan pula dua pembicara lain, AKBP Affandi dari Polda DIY dan Maryanto dari Divisi Safety Riding Astra Honda.
( Bambang Unjianto /CN27 ) http://suaramerdeka.com
Set as favorite
Dilihat: 48
Komentar (0)

tulis komentar





