You are here:
Sabtu, 19 Mei 2012 23:16

Dinas Perhubungan DIY

Sultan Akan Jadikan Malioboro Kawasan Pejalan Kaki

113668Kawasan Malioboro akan dirancang untuk area pedistrian atau pejalan kaki. Langkah tersebut dimaksudkan untuk mengurangi beban kepadatan kendaraan di Malioboro yang semakin tidak bisa terbendung.

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X mengungkapkan, dengan dirancangnya Malioboro sebagai kawasan pedistrian, secara otomatis akan menimbulkan persoalan baru yakni kemacetan di beberapa ruas jalan dan kebutuhan lahan parkir tambahan. Secara ideal, setidaknya Malioboro membutuhkan lahan parkir tambahan sekitar 3.000 square meter untuk menampung kendaraan.

"Yang paling problem itu kan tempat parkir. Berarti kita harus membangun entah itu kawasan Indra, parkir bawah tanah di benten Vredeburg sampai BI, atau misalnya utara DPRD DIY dibangun 5 tingkat. Hal seperti itu kan yang memungkinkan untuk pengganti. Karena di pinggir jalan Mataram kan sudah crowded (semrawut)," ujar Sultan usai peresmian jembatan Amarta, Selasa (3/1).

Menurut Sultan, dirancangnya Malioboro sebagai kawasan pedistrian ini pada dasarnya tidak akan mengganggu akses masyarakat terutama wisatawan untuk menuju lokasi strategis seperti hotel. Pasalnya, banyak alternatif yang bisa dilakukan untuk memberikan kemudahan akses pengganti.

"Akses ke hotel tidak ada masalah. Karena dibelakang Kepatihan kan juga ada jalan menuju jalan Mataram. Ini kan tergantung cara pendekatan yang kita lakukan. Biarpun nanti jadi pedistrian bukan berarti Malioboro jalannya dihilangkan. Jalan utama tetap ada," kata Sultan.

Terkait keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) juga dianggap bukan menjadi kendala untuk mewujudkan Malioboro pedistrian. "Masalah PKL asal bisa ditempatkan di sekitar Malioboro dan dia bisa diyakinkan bahwa pendapatannya tidak akan turun, saya kira tidak akan ada masalah," tegas Sultan.

Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti menambahkan, untuk menuju Malioboro pedistrian, hal utama yang diperlukan adalah komitmen dari seluruh warga masyarakat khususnya para pelaku usaha yang ada di Malioboro. Termasuk melakukan optimalisasi sirip atau ruas pinggir Malioboro serta penambahan lahan parkir.

"Ini bisa dilakukan dengan pengalihan beberapa arus di sirip Malioboro yang bisa berfungsi baik. Kami akan segera koordinasi dengan dinas perhubungan untuk sampaikan potensi parkir di beberapa lahan kosong. Studinya memang sudah lama, tinggal action saja. Sehingga perlu komitmen seluruh warga masyarakat untuk sadar bahwa meski agak tidak nyaman tapi ini demi masa depan," tandasnya. (Aie)

Share this post

Share on Myspace
 

Banner



jogja_prov
Angkkutan Lebaran, Natal dan Tahu Baru 2011
Sarpras
rute-trans-jogja
rambu-rambu
polantas_dalam_angka
cctv
jogjait